Hamil Sungsang
Walau terdengar cukup familiar, bagi ibu yang mengalami
kondisi ini tetap saja terasa mengkhawatirkan. Ternyata, terdapat
berbagai faktor penyebab terjadinya sungsang. Jangan terlampau khawatir
jika dokter mengatakan bahwa kondisi kehamilan Anda saat ini sungsang.
Sepanjang kandungan Anda belum memasuki bulan ke-9, keadaan tersebut
masih terbilang normal. Mungkin beberapa pengetahuan ini bermanfaat bagi
anda :
Apa Itu Sungsang ?
“Sungsang adalah kondisi letak bayi memanjang
dengan kepala di bagian atas rahim sementara bokong bayi di bagian
bawah,” katanya. Jadi jangan terburu panik.
Posisi sungsang, posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas
rahim dan bokongnya ada di bagian bawah, tergolong sebagai kelainan
letak janin. Kondisi ini biasanya sudah terdekteksi saat kehamilan
memasuki trimester kedua. Jika situasi ini terjadi pada saat kehamilan
masih berusia di bawah 9 bulan maka masih dikategorikan sebagai sesuatu
yang normal.

Salah satu indikasi awam adalah kandungan yang
terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di
bagian bawah. Namun, tentu saja untuk memastikannya Anda perlu
memeriksakan kehamilan pada dokter. Lebih jauh, bahwa sungsang dapat
terjadi pada ibu hamil manapun tanpa bisa dicegah. “Ini merupakan proses
adaptasi bayi terhadap rahim”.
Jika kondisi ini terjadi pada kehamilan Anda, maka jangan buru-buru
panik. Asalkan usia kandungan masih di bawah 32 minggu maka si kecil
dalam perut masih bisa dikembalikan pada posisi normal kok.
Mengapa bisa sungsang ?
Penyebabnya ada dua, yaitu faktor janin dan ibu
sendiri. Dari segi janin, mungkin karena ukurannya lebih kecil
dibandingkan dengan ruangan rahim ibu. Akibatnya, janin bebas berputar,
baik ke atas maupun ke bawah. Di Indonesia, bila berat bayi di bawah 3
kg dan ibunya telah beberapa kali melahirkan, ada kemungkinan akan
menjadi sungsang.
Sebaliknya, bila si bayi terlalu besar dan posisi kepala masih di atas.
Pada saat kepala akan melewati panggul menuju posisi normal, akhirnya
terpental kembali karena ruangan panggul ibu terlalu sempit sehingga
kepala bayi sulit berputar ke arah bawah.
Pada kasus bayi kembar, kemungkinan sungsang menjadi lebih besar sebab
janin yang kepalanya berputar ke arah bawah lebih dulu akan membuat
rongga panggul ibu susah dilalui janin kembarannya. Maka, pada bayi
kembar, posisi salah satu janinnya sungsang.
Sedangkan faktor ibu, antara lain karena bentuk rahim yang tidak normal,
air ketuban yang terlalu banyak, adanya tumor, plasenta di bawah, dan
lainnya.
Penyebab Lain
1. Bobot janin relatif rendah. Hal ini
mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu
kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi
bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu
posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
2. Rahim yang sangat elastis. Hal ini biasanya terjadi karena ibu
telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat
elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu
ke-37 dan seterusnya.
3. Hamil kembar. Adanya lebih dari satu janin dalam rahim
menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari
tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih
besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
4. Hidramnion (kembar air). Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.
5. Hidrosefalus. Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan
(hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di
bagian atas rahim.
6. Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat
mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari
tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
7. Panggul sempit. Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
8. Kelainan bawaan. Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.
Letak yang salah itulah yang dapat menimbulkan
masalah saat ibu harus menjalani persalinan. Dan berbeda dengan
persalinan normal, pada persalinan sungsang dibatasi waktu. Begitu badan
bayi sudah keluar, kepalanya harus dikeluarkan 4 menit kemudian. “Ini
perlu dan harus dilakukan demi keselamatan bayi. Sebab, jika terlalu
lama, bayi bisa kekurangan oksigen dan dapat menimbulkan kematian,”
Jenis Sungsang
1. Frank Breech/Letak Bokong. Letak bokong dengan kedua tungkai kaki terangkat ke atas, kadang kaki sampai menyentuh telinga.
2. Complete Breech/Letak Sungsang Sempurna. Letak
bokong di mana kedua kaki ada di samping bokong (letak bokong kaki
sempurna/lipat kejang). Seakan posisi bayi “jongkok” dengan bokong di
atas mulut rahim, lutut terangkat ke perut.
3. Incomplete Breech/Singel Footling Breech. Bila
satu kaki di atas dan kaki yang lainnya di bawah, dalam dunia kedokteran
disebut presentasi bokong kaki. Tetapi, kasus letak sungsang jenis ini
jarang ditemui.
Multiparitas
Selain dapat terjadi secara fisiologis atau normal, sungsang dapat juga disebabkan oleh penyebab lain, diantaranya adalah :
1. Kelainan dari rahim, sebut saja terdapat sekat pada rahim, bisa juga karena rahim bentuknya menyerupai angka 7
2. Ada miom dalam rahim yang mendesak
3. Adanya lilitan tali pusat sehingga bayi tidak bisa memutar
4. Placenta previa, yakni placenta yang menutupi jalan lahir
5. Kepala bayi yang terlampau besar (hidrosefalus)
6. Ukuran bayi lebih besar daripada panggul ibu
7. Kehamilan bayi kembar
8. Multiparitas, seperti kehamilan anak ke-2,3,4, dst.
Kongres Dokter kandungan Amerika dan Ginekologis mengatakan kelahiran bayi sungsang lebih umum terjadi, bila :
1. Si ibu telah hamil sebelumnya atau ini bukan kelahiran anak pertamanya.
2. Si ibu mengandung lebih dari satu janin.
3. Sang ibu memiliki cairan ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit di dalam rahim.
4. Sang ibu memiliki kelainan pada bentuk rahim atau pertumbuhan yang tidak biasa seperti fibroid.
5. Plasenta ibu hamil secara keseluruhan atau sebagian menghalangi pembukaan rahim. Kondisi seperti ini disebut plasenta previa.
6. Bayi prematur.
Sujud
Jika tidak terdapat faktor risiko seperti yang
disebutkan di atas, maka kondisi sungsang dianggap sebagai sesuatu yang
normal. Artinya, diyakini dapat diupayakan untuk dilakukan pengoreksian.
Cara sederhana yang bisa Anda lakukan adalah dengan melakukan posisi
sujud. “Pada kehamilan 7-8 bulan koreksi dilakukan dengan cara ibu
berada dalam posisi sujud atau knee-chest position. Lakukan antara 5-10
menit sebanyak 2 kali sehari. Diharapkan dengan rutin melakukannya, bayi
akan memutar ke posisi yang seharusnya”.
Biasanya para ibu yang janinnya berposisi sungsang, dianjurkan untuk
melakukan posisi bersujud, dengan posisi perut seakan-akan menggantung
ke bawah. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan
besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal.
“Kemungkinannya kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen.
Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi
ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal
Hanya saja, ia mengingatkan bahwa posisi tersebut dapat membuat ibu
merasa tidak nyaman atau sesak jika dilakukan terlalu lama. Sarannya,
berhentilah dulu setiap Anda mulai merasa tidak nyaman. Jangan
dipaksakan. Jika Anda sudah merasa lebih baik, sujud dapat dilakukan
lagi.
Lantas, bagaimana jika setelah rutin melakukan
sujud si mungil tetap berada dalam kondisi sungsang? Dokter dapat
melakukan tindakan koreksi dari luar dengan cara memutar janin hingga
pada posisi yang seharusnya. Namun, untuk melakukan tindakan ini ada
sejumlah syarat yang harus dipenuhi, seperti :
1. Tidak ada lilitan tali pusat pada leher bayi
2. Tidak ada kondisi hidrosefalus
3. Tidak ada placenta previa
4. Tidak ada miom
5. Ukuran bayi tidak lebih besar daripada panggul ibu
Bagaimana Cara Mendeteksi Sungsang ?
1. Letak janin sungsang sudah bisa diketahui
saat kehamilan berusia tua. Caranya dengan perabaan luar melalui perut.
Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Nah, bayi akan diduga
sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas.
Karena seperti kita tahu, kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras
dari janin.
2. Melakukan perabaan perut bagian luar. Cara ini dilakukan oleh dokter
atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan
besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala
merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
3. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari. Cara ini pun hanya
bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak
dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
4. Cara lain adalah dengan ultrasonografi (USG).
Tindakan apa yang harus dilakukan?
Selain upaya yang dilakukan dokter, maka Anda pun bisa mengupayakan sendiri agar janin kembali ke posisi semula.
1. Anda dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest
position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Cara
ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan
sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan
baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke
posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar
sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena
secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke
posisi normal.
2. Usaha lain yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mengubah letak
janin sungsang menjadi normal dengan cara externalcephalic versin/ECV.
Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu. Cara
ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya,
cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan
suplai oksigen ke otaknya.
Jangan Memaksa dan Tahu Resiko
Setiap ibu dipastikan menginginkan persalinan
normal, hanya saja jika sudah tiba saatnya si kecil lahir posisinya
masih sungsang, walau persalinan per vaginal bisa diusahakan tetap
terdapat beberapa risiko, seperti :
1. Waktu sangat singkat. Pada persalinan normal (posisi kepala bayi ke
luar lebih dulu) waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kepala hingga
seluruh tubuhnya bisa hingga 2 jam. Sementara, pada persalinan sungsang
(posisi bokong bayi ke luar lebih dulu) hingga keseluruhan badannya,
waktu yang tersedia hanya 8 menit. Pasalnya, begitu bokongnya ke luar,
tali pusat akan terjepit –tertekan dengan kepala—karena kepala sudah
masuk panggul. “Nah, kapasitas oksigen yang dimiliki bayi hanya cukup
untuk 8 menit. Lebih dari itu, ia akan meninggal”.
2. Dikhawatirkan dapat menyebabkan perdarahan otak karena dalam waktu
singkat terjadi dekompresi. Pada persalinan normal, kepala bayi akan
beradaptasi mengikuti jalan lahir sedangkan pada persalinan sungsang
kepala bayi tidak memiliki waktu untuk beradaptasi.
3. Jika bokong bayi ke luar lebih dulu, proses melahirkan benar-benar
mengandalkan tenaga ibu sepenuhnya, dan bayi bisa terjepit di jalan
lahir. Pada persalinan normal, jika dalam proses melahirkan Anda merasa
kelelahan maka dokter dapat membantu dengan melakukan tindakan vakum
atau bayi ditarik dengan forcep.
Dengan sejumlah risiko seperti yang telah dituturkan di atas, itulah
mengapa banyak pasangan yang memilih jalan caesar. Bagaimana dengan
Anda?
Apa Yang Terjadi Saat Persalinan ?
Posisi janin sungsang tentunya dapat
memengaruhi proses persalinan. Proses persalinan yang salah, jelas
menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di
bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian
tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam
waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar),
dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat
untuk memantau kemajuan persalinan. Jika persalinan dinilai berjalan
lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.
Kendati letak bayi sungsang, persalinan pervaginam masih tetap bisa
dilakukan. Yang jelas, persalinan sungsang dipengaruhi beberapa faktor.
1. Bila berat bayi di atas 3,5 kg, dokter akan cenderung memilih operasi
caesar. Cara ini dipilih untuk menghindari cedera pada otot leher bayi
yang mungkin saja tersangkut dan tertarik saat persalinan normal.
2. Jika sungsang terjadi pada anak pertama, persalinan disarankan
melalui caesar. Karena panggul ibu belum pernah melahirkan, tidak bisa
dicoba-coba untuk melahirkan dengan cara normal karena dapat
mengakibatkan cedera.
3. Pada janin normal, posisi kepala yang baik yaitu menunduk seperti
menghadap ke bawah. Tapi, ada kemungkinan posisi kepala janin seperti
posisi “militer”, yaitu tegak menghadap ke depan (layaknya prajurit siap
siaga). Pada janin sungsang, bila dipaksakan keluar dapat mematahkan
tulang punggung yang paling atas dan dapat mengakibatkan radang otak.
Sebab itulah sebaiknya persalinan pun dilakukan dengan jalan caesar.
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9202959